Bika Singkong Keju
Bahan - Bahan :
• 1 kg Singkong mentah
• 250 gr gula pasir
• 2 butir telur utuh
• 200 ml santan
• 100 gr margarin cair
• 30 gr tepung terigu
• 1 sdt garam
• 1 sdt vanili bubuk
• ½ sdt baking powder
• 1 sachet susu kental manis
• 100 gr keju parut untuk taburan / topping
==============================================
Cara membuat :
1. Parut singkong dan peras. Air perasan singkong lalu didiamkan 15 menit hingga mengendap, buang airnya dan ambil patinya untuk dicampurkan dengan singkong yang sudah diperas tadi.
2. Rebus santan dengan garam dan sebagian gula hingga mendidih. Matikan kompor dan dinginkan.
3. Kocok telur dengan sisa gula pasir hingga kental mengembang.
4. Masukkan campuran terigu, baking powder dan vanili bubuk sambil diayak. Aduk rata.
5. Masukkan singkong parut dan santan sambil diaduk.
6. Terakhir masukkan margarin cair. Aduk hingga rata.
7. Tuangkan adonan di loyang yang telah dioles margarin dan diberi taburan terigu.
8. Oven dengan suhu 180 dercel selama 20 menit, keluarkan kue dari oven lalu beri olesan susu kental manis dan taburan keju parut.
9. Oven kembali kue dengan suhu 170 dercel selama 30 menit, lakukan tes tusuk.
10. Potong kue setelah benar-benar dingin.
By FB Bunda Idaman Keluarga
"Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalkannya lantas menyebarkannya" (Sufyan Ats-Tsauri, dalam Raudhatul 'Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban Al-Busti)
Showing posts with label Si Merah Jambu. Show all posts
Showing posts with label Si Merah Jambu. Show all posts
Thursday, September 28, 2017
Sunday, March 24, 2013
Ketika Ustadz Tahsin merayu Sang Istri...
♥ Saat pertama kali berjumpa denganmu,
aku bagaikan berjumpa dengan saktah...
hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar...
hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar...
Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara
idgham billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada...
idgham billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada...
Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang...
Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi,
maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta...
Sejenak pandangan kita bertemu,
lalu tiba-tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain. .. melebur jadi satu.
Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttashil dan Mad Wajib Jaiz Munfashil...
Paling panjang di antara yang lainnya...
Setelah kau terima cintaku nanti,
hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro..
terpantul-pantul dengan keras...
Dan akhirnya setelah lama kita bersama,
cinta kita seperti Iqlab,
ditandai dengan dua hati yang menyatu..
Sayangku padamu seperti mad thobi'I dalam quran...
Buanyaaakkk beneerrrrr....
Buanyaaakkk beneerrrrr....
Semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bilaghunnah ya,
cuma berdua, lam dan ro' .. aku dan kamu,
Layaknya waqaf mu'annaqah, engkau hanya boleh
berhenti di salah satunya. dia atau aku?
berhenti di salah satunya. dia atau aku?
Meski perhatianku ga terlihat kaya alif lam syamsiah,
cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas...
cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas...
Kau & aku seperti Idghom Mutaqooribain..
perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya...
Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim,
terhenti sempurna diakhir hayat...
Sama halnya dengan Mad 'aridh dimana tiap mad bertemu
lin sukun aridh akan berhenti,
lin sukun aridh akan berhenti,
seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.
Layaknya huruf Tafkhim,Namamu pun bercetak tebal di fikiranku
Seperti Hukum Imalah yg dikhususkan untuk Ro' saja,
begitu juga aku yang hanya untukmu.
Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun ..... :).
Mengingat ilmu tajwid...♥♥
Copas dari bunda Tatiek Kancaniati Karimah
Thanks Bunda atas ilmunya :)
Thanks Bunda atas ilmunya :)
Thursday, February 14, 2013
"Muslim HARAM merayakan Valentine's Day ". WHY?
Rasulullah Saw dengan tegas melarang umat Islam untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam : “Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut” (HR. At-Tirmidzi).
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci dalam Katolik) yang berbeda: seorang pastur di Roma, uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa (Wikipedia).
Hubungan antara tiga santo tersebut terhadap perayaan Valentine atau “Hari Kasih Sayang” tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan, Paus Gelasius II tahun 496 M menyatakan, sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga santo itu.
Tanggal 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santo Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (Dewa Kesuburan) yang dirayakan tanggal 15 Februari. Beberapa sumber menyebutkan, jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Churc di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI tahun 1836.
Sejak itu, banyak wisatawan yang berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Literatur lain menyebutkan, tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi, Raja Claudius II (268 – 270 M). Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai “upacara keagamaan”.
Tetapi sejak abad 16 M, ‘upacara keagamaan’ tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.
Setelah orang-orang Romawi itu masuk Kristen, pesta “supercalis” kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai ‘hari kasih sayang’ juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu ‘kasih sayang’ itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’ pada tanggal 14 Februari.
Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti ‘galant atau cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya tanggal 14 Februari.
Catatan lain menyebutkan, Valentine adalah nama seorang paderi, Pedro St. Valentino. Tanggal 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Spanyol. Jadi, tumbangnya kerajaan Islam di Spanyol dirayakan sebagai Hari Valentine.
Ulama kenamaan, Ibnul Qayyim, berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan “Selamat hari raya!” dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyembah Salib. Bahkan, perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut.
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung).
Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita:
* Sore hari sebelum santo Valentinus akan gugur sebagai martir, ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”.
* Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.
MENURUT catatan Wikipedia, Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)
Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih”(White Day) muncul. Pada hari ini (14 Maret), pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.
Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah “Hari Raya Anak Perempuan” (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.
Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.
Sekali lagi, umat Islam tidak boleh merayakan Valentine karena Valentina adalah “ritual” atau “hari raya” non-Muslim yang harus kita hormati tanpa harus turut merayakannya. Wallahu a’lam bish-showab.
Sumber : DDHK News
Menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), istilah Valentine yang disadur dari nama “Valentinus” merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci dalam Katolik) yang berbeda: seorang pastur di Roma, uskup Interamna, dan seorang martir di Provinsi Romawi Africa (Wikipedia).
Hubungan antara tiga santo tersebut terhadap perayaan Valentine atau “Hari Kasih Sayang” tidak memiliki catatan sejarah yang jelas. Bahkan, Paus Gelasius II tahun 496 M menyatakan, sebenarnya tidak ada hal yang diketahui dari ketiga santo itu.
Tanggal 14 Februari dirayakan sebagai peringatan santo Valentinus sebagai upaya mengungguli hari raya Lupercalica (Dewa Kesuburan) yang dirayakan tanggal 15 Februari. Beberapa sumber menyebutkan, jenazah santo Hyppolytus yang diidentifikasi sebagai jenazah santo Valentinus diletakkan dalam sebuah peti emas dan dikirim ke gereja Whiterfiar Street Carmelite Churc di Dublin Irlandia oleh Paus Gregorius XVI tahun 1836.
Sejak itu, banyak wisatawan yang berziarah ke gereja ini pada tanggal 14 Februari. Pada tanggal tersebut sebuah misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.
Literatur lain menyebutkan, tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi, Raja Claudius II (268 – 270 M). Untuk mengagungkan St. Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai “upacara keagamaan”.
Tetapi sejak abad 16 M, ‘upacara keagamaan’ tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan bukan keagamaan’. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.
Setelah orang-orang Romawi itu masuk Kristen, pesta “supercalis” kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai ‘hari kasih sayang’ juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu ‘kasih sayang’ itu mulai bersemi ‘bagai burung jantan dan betina’ pada tanggal 14 Februari.
Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti ‘galant atau cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya tanggal 14 Februari.
Catatan lain menyebutkan, Valentine adalah nama seorang paderi, Pedro St. Valentino. Tanggal 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Spanyol. Jadi, tumbangnya kerajaan Islam di Spanyol dirayakan sebagai Hari Valentine.
Ulama kenamaan, Ibnul Qayyim, berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan “Selamat hari raya!” dan semisalnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyembah Salib. Bahkan, perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut.
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sang sastrawan Inggris pertengahan ternama Geoffrey Chaucer pada abad ke-14. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung).
For this was sent on Seynt Valentyne’s day (“Untuk inilah dikirim pada hari Santo Valentinus”)Pada zaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari ini dan memanggil pasangan mereka “Valentine” mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi pernaskahan British Library di London.
When every foul cometh there to choose his mate (“Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya”)
Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada zaman ini. Beberapa di antaranya bercerita:
* Sore hari sebelum santo Valentinus akan gugur sebagai martir, ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”.
* Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.
MENURUT catatan Wikipedia, Hari Valentine kemungkinan diimpor oleh Amerika Utara dari Britania Raya, negara yang mengkolonisasi daerah tersebut. Di Amerika Serikat, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan kantor yang besar dan ia mendapat ilham untuk memproduksi kartu dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. (Semenjak tahun 2001, The Greeting Card Association setiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary”.)
Di Jepang, Hari Valentine sudah muncul berkat marketing besar-besaran, sebagai hari di mana para wanita memberi para pria yang mereka senangi permen cokelat. Namun hal ini tidaklah dilakukan secara sukarela melainkan menjadi sebuah kewajiban, terutama bagi mereka yang bekerja di kantor-kantor. Mereka memberi cokelat kepada para teman kerja pria mereka, kadangkala dengan biaya besar. Cokelat ini disebut sebagai Giri-choko, dari kata giri (kewajiban) dan choco (cokelat). Lalu berkat usaha marketing lebih lanjut, sebuah hari balasan, disebut “Hari Putih”(White Day) muncul. Pada hari ini (14 Maret), pria yang sudah mendapat cokelat pada hari Valentine diharapkan memberi sesuatu kembali.
Di Taiwan, sebagai tambahan dari Hari Valentine dan Hari Putih, masih ada satu hari raya lainnya yang mirip dengan kedua hari raya ini ditilik dari fungsinya. Namanya adalah “Hari Raya Anak Perempuan” (Qi Xi). Hari ini diadakan pada hari ke-7, bulan ke-7 menurut tarikh kalender kamariyah Tionghoa.
Di Indonesia, budaya bertukaran surat ucapan antar kekasih juga mulai muncul. Budaya ini menjadi budaya populer di kalangan anak muda. Bentuk perayaannya bermacam-macam, mulai dari saling berbagi kasih dengan pasangan, orang tua, orang-orang yang kurang beruntung secara materi, dan mengunjungi panti asuhan di mana mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia. Pertokoan dan media (stasiun TV, radio, dan majalah remaja) terutama di kota-kota besar di Indonesia marak mengadakan acara-acara yang berkaitan dengan valentine.
Sekali lagi, umat Islam tidak boleh merayakan Valentine karena Valentina adalah “ritual” atau “hari raya” non-Muslim yang harus kita hormati tanpa harus turut merayakannya. Wallahu a’lam bish-showab.
Sumber : DDHK News
Tuesday, February 14, 2012
Say No To Valentine
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,,
'Valentine' tentunya sudah tak asing lagi dengan nama ini, apalagi kaum muda-mudi yang suka merayakan nya mulai yang tinggal di kota-kota besar hingga ke pelosok desa, sampai anak bau kencurpun tahu apa itu valentine. Tapi tahukah apa arti di balik nama itu dan apa bahaya bagi umat Muslim akibat ikut merayakan kebudayaan atau keyakinan hasil adopsi dari negeri kaum kafir ini?. Mari kita simak pen...jelasannya di bawah ini :
1. Valentine di ilhami dari perayaan Lipercalia romawi kuno, persembahan untuk dewi cinta dengan di undi nya pasangan laki-laki dan perempuan untuk bersenang-senang lalu mohon perlindungan pada dewa lupercalia dengan mencambuk binatang dan para wanita agar cepat hamil. Bagi yang suka merayakan hari valentine jangan aneh kalau sesama pasangan bisa saling menyakiti dan wanitanya hamil tanpa rencana. Na'udzu BILLAAHI mindzaliik.
2.Kristen katolik roma mengadopsi upacara ini dengan nuansa kristiani menjadi perayaan gereja dengan nama ' saint valentine's day ', demi memghormati St.valentine yang mati pada 14 pebruari karena menolak menyembah tuhan orang romawi. Dan hanya mengakui tuhan nya adalah Isa Almasih.. Umat muslim yang suka merayakan hari valentine berarti anda sama- sama ikut mengenang St.valenine yang rela mati karena mempertahankan keyakinannya dengan mengakui bahwa Isa Almasih itu tuhan.. Na'udzu BILLAAHI mindzaaliik. Segeralah bertobat dan kembali ke ajaran Islam yang sesungguhnya.
3. Valentine berasal dari bahasa latin yang berarti ' yang maha kuat dan yang maha kuasa '. Kata ini di tujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang romawi. Maka jika kita meminta orang menjadi 'to be my valentine' berarti kita memintanya menjadi 'saingan' ALLAH SWT 'Maha Kuat dan Maha Kuasa' yang Sesungguh nya dan Sebenar-benarnya.. Yang berarti kita telah berbuat 'Syirik' dan termasuk dosa besar. Na'udzu BILLAAHI mindzaaliik.
4. Cupid (the desire), si bayi bersayap dengan panah yang sering jadi ikon di hari valentine adalah putra 'nimrod' (the hunter) dewa matahari. Di sebut tuhan cinta karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan iapun berzina dengan ibunya sendiri ! . Tak heran makin gencar 'valentine' di gaungkan maka makin banyak 'i-n-ce-st (hubungan kelamin sedarah) makin sering terjadi... Naudzu BILLAAHI Mindzaaliik. Kalau sudah begitu jelas bahayanya, masihkah kamu sebagai umat Muslim akan ikut merayakan?.. 'SAY NO TO VALENTINE'
Subscribe to:
Posts (Atom)



